Di hari Minggu yang damai ini gw super iseng dan tiba-tiba merasa pengen nonton Boukenger vs Gekiranger RAW. Di sini gw notice sebuah classic moment of “semua orang bergaya di depan musuh, menyatakan dirinya masing-masing, diakhiri dengan gaya terakhir dengan background ledakan”. Dalam film ini, adegan itu dimulai di menit 28:13 dan diakhiri di 29:48, yaitu 1 menit 35 detik total.
There’s this old-age joke which states “Kenapa gak musuhnya nyerang aja pas jagoannya lagi gaya/berubah”, yang kira-kira seangkatan dengan joke “Musuhnya langsung aja jadi gede/kirim semua pasukan” dan joke-joke sejenis lainnya which was done to death before. Joke ini udah diparodikan sama banyak pihak, bahkan sama yang bikin sendiri.
Pernah ada yang menyatakan bahwa dalam Tokusatsu yang penting Style, bukan tingkat realistis (dan frankly, masih banyak orang yang gak bisa bedain “realistic” dan “believable”). In other words, siapa peduli musuh punya kesempatan nyerang kalo kita bisa punya Henshin sequence yang SUPAH? Siapa peduli musuh bisa ngancurin dunia selama kita bisa melakukan ini :

Ini mengingatkan gw kalo mau bikin sesuatu yang realistis, go all the way to realism, jangan masukin unsur “classic toku”, apalagi kalo jadinya setengah-setengah yang bikin kita bisa bernasib kayak film ini :

There. Jadi berikutnya kalo kalian lihat 100+ orang bergaya berjejer dengan ledakan di belakangnya, accept it as a style, jangan dibash karena gak realistis. Two things to note, though :
1. This is not applicable to real life. Say kita lagi ngejar copet, dan pas copetnya kekejar, lalu kita ngomong “Aku adalah orang yang memperjuangkan keadilan!” “Berhenti kau pencuri! Tidak akan kubiarkan kau lari!” atau “Akulah teror yang mengguncang malam!”, it does prove that you’re a freak, but no more than that.
2. Posting ini tidak men-justify kurangnya kompetensi para pasukan pelindung bumi di Ultra Series.