Kawah putih, is, obviously, kawah yang putih. Setidaknya bagi sebagian orang. Sebagai sekuel dari perjalanan Genshiken ke Tangkuban Perahu tahun lalu, sekarang kita ke Kawah Putih, Ciwidey. Gw berharap ada cerita rakyat daerah situ yang ngaco abis seperti Sangkuriang-Dayang Sumbi, sayangnya gak sefantastis itu. Keren malah.
Kawah ini dulunya dianggap angker oleh penduduk setempat karena begitu gersang dan setiap burung yang lewat situ mati. Butuh orang Belanda pemberani untuk mengetahui bahwa burung-burung lewat situ mati karena (drumrolls) belerang! Kesimpulan gw adalah mungkin kita bisa membunuh burung* dengan cara mengumpulkan sekumpulan orang pemberani lalu kentut rame-rame.
Tentunya kurang mistis untuk ukuran cerita rakyat Indonesia. Untungnya ada kabar bahwa di kawasan Kawah Putih ada makam 7 Eyang yang konon punya kesaktian. Now this is getting interesting, karena kata “makam”, “orang sakti”, dan “7″ bisa dirangkai siapapun untuk bikin cerita RPG yang lumayan keren. Heck, bahkan untuk cerita Zelda ini bisa langsung jadi.
To add things up, suka ada penampakan sekumpulan Domba Putih di gunung ini. Yes, really. Kenapa domba dan bukan kuda nil, jangan tanya gw.
Anyway as part of the tour, kita lanjutin ke danau Situ Patenggang. Kubangan raksasa ini mestinya bisa lebih keren lagi kalo gak kebanyakan orang yang jualan dan orang-orang tolol yang buang sampah sembarangan. But the coolest part of this lake? The story.
Jadi ada pulau berbentuk hati di tengah danau ini. Or so the people said. Kalo dari mata gw sih gak kelihatan bentuk hati sama sekali. Atau kita mungkin mesti ngeliat pake mata hati juga. Dan imajinasi. Yang tinggi. Pulau ini dinamakan….Pulau Asmara. DUN DUN DUNNNNN
Dan di ujung pulau asmara ini ada batu gede. Tapi orang bilang ini Batu Cinta.
Now here is the tale : Ada seorang putra-putri titisan dewa dewi yang tumbuh bersama alam di kawasan ini** (way to go, gods. Way to go.). Mereka tumbuh dan saling mencintai (lu ditinggal di tengah hutan bareng lawan jenis selama bertahun-tahun. what do you expect?) Lalu mereka berpisah setelah sekian lamanya (beneran “sekian”, gak ada waktu pastinya. Akhirnya kemudian mereka bertemu kembali di lokasi yang disebut Batu Cinta. Si cewek meminta si cowok membuatkan danau (tanpa batas waktu dan gak pake dicurangin, unlike another folktale girl whose tale is widely known). Si cowok pun membuat danau dan pulau berbentuk hati di tengahnya. Now THAT’s a boy. Mau aja disuruh buat danau, jadi lagi. Dan kenapa juga cewek sunda demen banget minta dibikinin danau?
Oh, kelilingin itu pulau asmara, lalu berdiri di batu cinta. Kalian akan mendapatkan cinta yang abadi. (This has yet to be proven, kemaren gak ada yang nyoba. Kalo mau singgah bayar ey. 15 ribu kalo gak salah. Now that I think of it, it’s actually a bargain! Eternal love for just Rp. 15000!)
Intinya cerita tadi terlalu banyak ketidaklengkapannya. Siapa dewa-dewi yang gak tau diri naro cowok dan cewek di tengah hutan? Kenapa mereka berpisah? Kenapa mereka bertemu? Dengan cara apa si cowok bikin danau? Mungkin jawabannya ada di season 2.
*No animals were harmed during the production of this post, blah blah blah
**Putra putrinya yang tumbuh bersama alam, bukan dewanya.
***Thanks to Agun yang tiba-tiba udah nyiapin cottage. O_o
Meanwhile, in another completely unrelated event that barely qualifies as news, someone just turned 21 today.