Cerita ini terjadi di zaman dahulu kala, ketika kerajaan bermunculan dan permen karet Yosan blom lahir.
Enam kerajaan besar, masing-masing dengan kekuatan pedang dan sihir, sedang berperang memperebutkan wilayah terbesar di dunia. Karena perang telah berlangsung selama 850 tahun, timbul keinginan untuk berunding dengan damai. Raja Kerajaan Angin pun mengutus tangan kanannya, sang Penyihir Angin untuk berundign bersama lima penyihir dari kerajaan lain.
“Kerajaan Angin berjanji akan memerintah kalian dengan adil!” kata Penyihir Angin kepada penyihir lain.
“Bisa apa kerajaan Angin? Sudah jelas yang paling mengenal keadilan itu adalah Kerajaan Api!” balas Penyihir Api.
“Api hanya akan mendatangkan bencana! Kerajaan Air akan memberikan kehidupan!” tandas Penyihir Air.
Pertengkaran terus berlangsung, masing-masing kerajaan ingin menguasai yang lain, sampai suatu saat tiba-tiba datang orang tua dengan kekuatan sakti. Orang tua itu menepuk kedua tangannya, sehingga bumi bergetar begitu keras dan langit pun bergemuruh.
“Tidak sadarkah kalian, bahwa kalian sedang memperebutkan sebuah bencana?” kata orang tua itu dengan suara bergetar. “Kekuasaan adalah kutukan! Siapapun yang memperolehnya akan menerima sebuah tanggung jawab yang begitu besar sehingga akan tumbuh bisul di badan kalian, pecah, lalu tumbuh lagi!”
Keenam penyihir mulai berpikir bahwa orang tua ini benar. “Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya Penyihir Bumi.
“Kalian sudah terlalu larut dalam permainan kegelapan ini.” kata si orang tua. “Untuk menyelesaikannya, kalian harus bertarung dengan takdir dan nyawa kalian. Kedua ibu jari kalian akan melambangkan tubuh dan jiwa kalian.” Semua penyihir mendengarkan dengan seksama.
“Kalian akan bergiliran menyebutkan sebuah angka.” jelas orang tua itu. “Angka ini tidak boleh lebih dari jumlah setiap ibu jari kalian, tubuh dan jiwa kalian semua. Secara acak, kalian harus mengangkat ibu jari kalian–mempertaruhkan tubuh, atau jiwa, keduanya, atau tidak sama sekali. Siapapun yang dapat menyebutkan dengan tepat berapa tubuh atau jiwa yang akan dipertaruhkan tiap giliran berhak melepaskan satu ibu jarinya dari permainan. Kalian akan terus berputar mengambil giliran, sampai hanya ada satu orang yang tersisa. Orang yang berhasil melepaskan ibu jarinya akan terlepas dari kutukan bernama kekuatan dan kekuasaan, sedangkan orang terakhir harus menerima takdir kutukan tersebut.”
Akhirnya keenam penyihir pun mempertaruhkan jiwa dan tubuh mereka sampai terpilih kerajaan penguasa baru. Semenjak ini, permainan tersebut mulai terkenal di kalangan rakyat, dan terus menerus dimainkan hingga ke zaman modern sekarang ini, yang namanya kini tinggal “Main jempol”.