Gw make semacam baju daerah yang bercelana panjang, bukan berkain. Karena kata nyokap gw kain apapun yang dililitkan di tubuh gw ditakdirkan untuk lepas dengan seketika (yang bikin gw bingung gimana caranya gw Haji ntar).
Apparently, di SD gw dulu “Memperingati hari Kartini” ekuivalen dengan “Anak-anak memakai baju daerah berjalan di catwalk sambil diliatin ibu-ibu orangtua murid”. Entah ini idenya siapa, but it makes perfect sense, sama perfectnya dengan lomba memasak untuk bapak-bapak di hari Ibu.
Also, as one of my friends pointed out, berterimakasihlah pada Ibu Kartini. Tanpa dia, (mungkin) wanita Indonesia tidak beremansipasi, yang berarti sekarang gak ada cewek di tempat kerja. Walaupun kayaknya dia lupa nyuruh lebih banyak lagi cewek untuk masuk Teknik Elektro (atau Teknik Mesin, lulz).
Untuk memperingati:
Our mother Kartini, the true lady
Indonesia’s lady, her name smells good
Our mother Kartini, the nations’s warrior
Warrior of her kind, for freedom
Oh our mother Kartini,
The noblest of ladies,
Her dreams are so big,
for Indonesia
…………I’d also like to point out that translating a song word by word will not yield a satisfactory result.





