So Things Happened

Jadi things happened, and it’s mostly good. Here’s how to bring this blog up to speed.

Waktu The Hero We Deserve selesai, kira-kira bulan Desember, gw bingung mau taro mana. Berhubung gambarnya Bea terlalu imba untuk disia-siakan, gw bingung harus gimana ngelaunchnya:

a) Launch di web, hope senpai notices. Tapi rentan menghilang begitu saja seperti perasaan pengen boker
b) Tunggu keriaan kekomikan buat diprint dan jual. Tapi komiknya sendiri tipis beud.

Untungnya pas Januari, Shani bilang mau bikin acara PANELinc buat ngumpul2 komikus. Karena ini satu-satunya cara, ya coba lah gw ikutan.

Berhubung acaranya Sabtu, hari Jumat gw ngeprint komiknya. Satu aja, buat ditunjukin keliling rencananya sih. + scriptnya karena kalo cuma komiknya doang tipis mirip selebaran Jumatan.

Pas udah selesai ngeprint Jumat malem, gw keluar dari tempat print, masuk ke bis buat pulang, dan,

“Kenapa gak ngeprint 10 aja ya?”

Jadilah Sabtunya, jam setengah 3, gw ngeprint 10 di format A5. (I don’t even have it now).

Lalu jam 4 acara PANELinc nya mulai, dengerin presentasi berkilau dari siapapun yang presentasi. Anxiety strikes sebelom gw akhirnya “lol whatever let’s just give this to the presenters then backflip to home” dan ngasih ke orang-orang di sana.

Pulang dengan perasaan ok-ok aja.
Sampe rumah juga masih ok-ok aja.

Lalu Ines ngetweet, and things go weird.

Intinya, ternyata gaya joke di THWD lumayan banyak yang demen, dan sambutannya lumayan meriah.

Which leads me to be in part of many wonderful things for the future, salah satunya Super Santai yang bakal gw ceritain nanti, tapi post berikutnya mungkin tentang The Hero We Deserve dulu.

…kalo ada yang bisa diomongin dari komik 23 halaman, that is.

One thought on “So Things Happened

  1. Siapacoba Copacabana says:

    \o/ well deserved, ser

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *